Tentang Aku dan Dia
Seperti judul lagu ya yang bercerita tentang cinta. Memang kali ini saya ingin berbagi sedikit cerita cinta antara penjual dan pembeli dan mengajak Anda mengenal lebih jauh pembeli dan perbedaan yang mendasar antara keduanya.
Pembeli adalah raja, begitulah kalimat yang sering kita dengar yang menggambarkan bahwa pembeli merupakan hal yang terpenting dari sebuah bisnis. Tanpa pembeli hampir dapat dipastikan sebuah bisnis tidak akan bergerak maju. Apalagi surplus sangat mustahil.
Sudah barang tentu sebagai penjual pastinya Anda ingin sekali produk yang Anda tawarkan dapat diterima dengan baik oleh konsumen dan mendatangkan banyak penjualan. Untuk itu mengenal konsumen lebih jauh adalah solusi yang paling tepat yang bisa Anda terapkan.
Kebanyakan pembeli dalam mengambil keputusan sadar atau tidak bahwa keputusan yang ia ambil lebih didasarkan kepada faktor emosional daripada masalah teknis. Faktor emosi lebih dominan menguasai pikiran pembeli ketimbang spesifikasi teknis sebuah produk. Seperti rasa bangga, kepuasan, percaya diri, rasa ingin tahu, kecemburuan, dan lain-lain.
Apakah spesifikasi teknis tidak penting? Juga penting tapi persentasenya lebih kecil dibandingkan faktor emosional. Mungkin perbandingannya kira-kira 70:30. 70% faktor emosional sisanya adalah teknis. Mungkin juga lebih.
Contohnya saja ketika Anda memutuskan untuk membeli sebuah buku, pertimbangan Anda tentunya apakah buku tersebut menjawab rasa ingin tahu Anda secara pribadi. Jika iya, pasti Anda akan beli. Walaupun tidak saat itu juga, setidaknya Anda memiliki rencana suatu saat nanti Anda akan membelinya.
Lalu bagaimana kalau tujuan Anda membeli untuk dijual kembali? Apakah emosi memiliki peran penting juga? Kalau begini ceritanya menjadi lain, silahkan baca artikel saya sebelumnya.
Kembali lagi tentang pembeli, saya memiliki beberapa catatan penting tentang aku (baca: Penjual) dan dia (baca: Pembeli). Beberapa hal tersebut jika saya perhatikan tidak terlepas dari emosional pembeli dan masalah teknis sebuah produk.
Berikut beberapa catatan saya:
- Pembeli ingin membeli dengan harga terendah atau jika memungkinkan gratis sedangkan penjual ingin menjual dengan harga tinggi atau sepantasnya. Pembeli selalu membandingkan uang yang ia keluarkan dengan nilai atau manfaat yang ia dapatkan. Bahkan beberapa pembeli ada yang ingin mendapatkan manfaat sangat besar dengan harga terendah. Hal ini sah saja mengingat pembeli adalah raja. Wajar saja jika sang raja inginnya yang tidak-tidak
. Sementara penjual berpkir manfaat lebih hanya untuk pembeli yang bersedia membayar lebih. - Pembeli ingin membayar selambat mungkin atau kredit sedangkan penjual ingin dibayar secepat mungkin dengan cara tunai. Masalah teknis yang sering menjadi pertimbangan pembeli adalah sistem pembayaran. Jika kita lihat keduanya memiliki motivasi yang berbeda berkaitan dengan sistem pembayaran ini. Pembeli ingin membeli dengan cara kredit dengan harga yang tidak jauh berbeda dengan harga tunainya. Sementara penjual ingin dibayar dengan segera dan tunai, pertimbangannya mungkin rotasi bisnis.
- Pembeli memiliki pesepsi bahwa penjual melebih-lebihkan manfaat produknya sedangkan penjual merasa bahwa pembeli merasa keberatan dengan penawarannya. Pembeli juga berpikir bahwa produk yang kita tawarkan tidak sebanding dengan manfaat yang akan ia dapatkan. Penjual hanya melebih-lebihkan produknya agar di persepsi terasa baik dan bagus sehingga memasang kuda-kuda pertahanan agar tidak terjebak. Sementara penjual keburu merasa bahwa pembeli pasti tidak percaya dengan penawarannya sampai-sampai menempuh cara-cara curang dengan berbohong.
Lantas bagaimana cara penjual menyikapi perbedaan persepsi dan motivasi ini? Caranya penjual perlu memakai pakaian pembeli. Dengan cara begini penjual mampu merancang surat penawaran yang mengena pada kepentingan pembeli dengan tetap menguntungkan penjual. Jika tidak, akan selalu ada kesenjangan atau perbedaan antara penjual dan pembeli yang menyulitkan terjadinya penjualan antara kedua belah pihak dan berjangka panjang.
Sudahkah Anda kenali calon pembeli Anda melebihi istri Anda sendiri
? Silahkan sampaikan pada kotak komentar
.
Popularity: 55% [?]
- tentang aku dan dia (5)
- aku atau dia (1)
- catatan tentang aku dan dia (1)
- kata kata perbedaan aku dan dia (1)
- tentang aku (1)
Related posts:
- Lebih Lanjut Tentang Menentukan Harga Produk Affiliate Kembali, ide tulisan ini muncul setelah membaca komentar Mas Triagung...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


setelah dipikir2… semua yg ditulis di atas mendekati kebenaran wkwkwkwk…
Mas Hengky sudah hampir menemukan kebenarannya, sedangkan saya sampai sekarang belum mengerti apa yang saya tulis, benar atau tidak….?

sama mas…
tulisannya njlimet, mau membaca kata demi kata jadi pusing, terutama 3 poin tersebut.
Saran saya, font-nya dibesarin dikit aja. Arial 14 mungkin bisa dicoba.
Makasih atas sarannya
Memang agak njilet, tapi saya paham betul dan bisa mengerti inti dari tulisan ini. Saran saya bahasanya agak lebih disederhanakan mas, biar yang awam juga bisa mengerti…
Jadi intinya jadilah pembeli yang cerdas dan jadilah penjual yang cerdas pula. begitu? hehe
Begitulah kira-kira mas…
wah, kenali calon pembeli melebihi istri..hmm..Tapi memang begitulah keadaannya mas. Pada intinya baik pembeli maupun penjual pasti ingin selalu merasa di posisi yang menguntungkan tho
Ya itu mas sifat dsr manusia yg lbh memntingkan dirinya sndiri…
Melebihi istri?
Istri aja belum punya Mas!!
Kalo begitu segera deh mas cari calon pendamping…
Sukses selalu sesama blogger Medan….